All articles28 Sept 2026

Ternyata, Menerima Diri Sendiri Lebih Sulit daripada Memaafkan Orang Lain

Tentang belajar berhenti membandingkan diri, berani mengakui kekurangan, dan menerima bahwa bertumbuh tidak selalu berarti menjadi sempurna.

Tentang belajar berhenti membandingkan diri, berani mengakui kekurangan, dan menerima bahwa bertumbuh tidak selalu berarti menjadi sempurna.

Aku selalu menganggap kekurangan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan.

Thanks for reading! Subscribe for free to receive new posts and support my work.

Kalau aku gagal melakukan sesuatu, rasanya bukan hanya apa yang aku kerjakan yang gagal. Aku juga ikut merasa gagal sebagai manusia. Ada rasa malu setiap kali melihat bagian dari diriku yang menurutku kurang, seolah-olah kekurangan adalah sesuatu yang seharusnya tidak ada.

Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya aku sadar bahwa mungkin masalahnya bukan pada kekurangan yang aku miliki, tetapi pada caraku melihat kekurangan itu.

Semakin ke sini, aku semakin mengerti bahwa tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Semua orang membawa kekurangan, ketakutan, dan perjuangannya masing-masing.

Terkadang kita hanya melihat kehidupan seseorang dari bagian yang sudah selesai mereka rapikan. Kita melihat pencapaian mereka, pekerjaan mereka, hubungan mereka, atau kehidupan yang terlihat baik-baik saja. Tapi kita tidak tahu berapa banyak kegagalan, keraguan, dan proses panjang yang mereka lalui sebelum sampai di sana.

Dan tanpa sadar, kita membandingkan bagian hidup kita yang masih berantakan dengan bagian hidup orang lain yang sudah mereka selesaikan.

Aku juga pernah seperti itu.

Aku melihat orang lain berjalan lebih cepat dan mulai bertanya-tanya kenapa aku belum sampai di titik yang sama. Aku melihat kemampuan orang lain dan merasa apa yang aku miliki masih kurang.

Sampai akhirnya aku sadar satu hal sederhana: jalan hidup kita memang berbeda.

Apa yang aku miliki mungkin tidak mereka miliki. Begitu juga sebaliknya.

Sejak itu aku mulai belajar untuk melihat kekurangan dan kesalahan dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai sesuatu yang memalukan, tetapi sebagai bagian dari proses untuk bertumbuh.

Ketika melakukan kesalahan, aku mencoba berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

“Apa yang bisa aku pelajari dari ini?”

“Apa yang masih bisa aku perbaiki?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi perlahan mengubah caraku memperlakukan diri sendiri. Daripada terus memarahi diri karena sesuatu yang sudah terjadi, aku mulai mencoba melihat pelajaran yang bisa dibawa ke depan.

Karena pada akhirnya, kesalahan tidak selalu berarti kita gagal. Kadang kesalahan hanya sedang menunjukkan sesuatu yang belum kita pahami.

Ada juga masa ketika aku tahu ada sesuatu dalam diriku yang perlu diperbaiki, tetapi aku justru memilih diam.

Bukan karena tidak ingin berubah.

Aku hanya takut ternyata aku memang tidak mampu.

Lucunya, ketakutan seperti itu sering muncul bahkan sebelum kita benar-benar mencoba.

Kita mulai membuat kesimpulan sendiri.

“Aku kayaknya gak bakat sama hal kayak gini.”

“Duh bisa gak ya, kayaknya gak bisa deh”

“skip aja deh pusing dari bayanginnya ribet.”

“Nanti kalau kayak gak sesuai plan gimana ya, udah deh gak usah”

Padahal mungkin kita hanya belum tahu caranya.

Ada perbedaan besar antara “aku tidak bisa” dan “aku belum bisa.”

Sekarang aku mencoba memilih kalimat yang kedua.

Kalau ada sesuatu yang belum aku mengerti, aku mulai belajar untuk bertanya. Kalau ada seseorang yang lebih ahli, aku mencoba belajar dari mereka.

Dulu, mengakui bahwa aku tidak tahu sesuatu terasa seperti menunjukkan kelemahan. Sekarang aku justru melihatnya sebagai awal dari proses belajar.

Dan terkadang dari hal sederhana seperti bertanya, kita bisa menemukan lebih banyak daripada sekadar jawaban. Kita bisa menemukan teman baru, kolaborasi, kesempatan, bahkan jalan yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan.

Tapi ada satu hal yang menurutku penting untuk diingat.

Menerima diri bukan berarti berhenti berkembang.

Menerima diri bukan berarti berkata, “Ya sudah, aku memang seperti ini,” lalu berhenti berusaha.

Justru sebaliknya.

Menurutku, ketika kita berhenti membenci diri sendiri, kita akhirnya punya lebih banyak ruang untuk bertumbuh.

Kita bisa memperbaiki diri tanpa terus merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri kita.

Kita bisa belajar tanpa harus malu karena belum tahu.

Kita bisa gagal tanpa menganggap diri kita sebagai sebuah kegagalan.

Dan mungkin selama ini kita terlalu sibuk menjadi versi diri yang lebih baik sampai lupa belajar menyayangi versi diri yang sekarang.

Aku sendiri masih jauh dari kata selesai dalam proses ini.

Masih ada hari ketika aku terlalu keras pada diri sendiri. Masih ada momen ketika aku merasa tertinggal, merasa kurang, atau membandingkan hidupku dengan hidup orang lain.

Tapi sekarang aku mulai mengerti bahwa tugasku bukan menjadi manusia tanpa kekurangan.

Tugasku adalah belajar hidup bersama kekurangan itu, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, dan memaafkan diriku untuk hal-hal yang memang tidak bisa selalu sempurna.

Karena mungkin menerima diri sendiri memang bukan sebuah tujuan.

Mungkin ia adalah sesuatu yang harus kita pilih, lagi dan lagi, setiap hari.

Thanks for reading! Subscribe for free to receive new posts and support my work.